GADIS BERKUDUNG PINK
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya, Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (S. An Nisa)
Hari itu pagi membuka kehidupannya, kokok ayam jantan terdengar tidak jelas dari kejauhan, mungkin karena di ibukota yang sudah jarang peternak ayam, tidak seperti di kampung kecilku tatkala setiap pagi menyongsong, si ayam jago pasti meneriakan kukuruyuknya sebagai tanda sang mentari siap mengepakan sayap takdir, menyinari permukaan bumi yang tak henti – henti memutar dzikir yang menggetarkan, kedai – kedai dan toko – toko sudah bersiap-siap membuka diri, dari penjual nasi uduk,pedagang pecel sampai penjual pulsa sudah siap beradu nasib di pelataran Ibu Kota Jakarta. Sebagai seorang musyafir, sebut saja si camar musthof, waktu ia mulai menyapa pagi, setelah menunaikan kewajibannya menghadap Tuhan pencipta waktu subuh, ia sisihkan sedikit waktu untuk melantunkan sedikit dari firman-firman Allah (Alahamdulillah hari ini ia ingat), surat yang di baca adalah surat Al Waaqiah surat ke 56 dari Kitab Suci Al Qur’an, ia berpikir sejenak, duh dari kecil hingga sekarang ketika umur telah mencapai puluhan tahun ternyata dirinya belum hapal urutan surat dari ALfatihah hingga An nas, Astagfirullahal ‘Adhim, padahal 114 surat sudah berapa kali ia khatamkan, rasanya malu pada saudaranya yang sudah mampu menghapal 30 juz. Meski demikian ia mencoba memulai hari dengan hal yang baik ia berusaha agar hari ini cerah secerah mentari yang tak lelah bersinar menebar tasbih walau tidak akan sempurna seperti teman-teman se_SLTAnya dulu, yang kini telah memenuhi separo dari imannya.
إذاتزوّج الرجل فقداستكمل نصف الدّين فليتق الله في النصف الباقي
Jika seorang laki-laki menikah, sesungguhnya ia telah menyermpurnakan setengah dari agama. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam menjaga yang setengahnya lagi.
Camar musthof mengetahui hal ini dari kitab Syarah Qurratul ‘Uyun yang di bacanya beberapa hari sebelumnya, kitab ini pernah di ajarkan oleh mama Ajengan (dai kondang di desanya) di bulan Ramadahan dengan cara pasaran istilah santrinya, waktu itu ia masih usia SLTA kelas 1 jadi belum berani ikut ngaji karena belum bisa dan memang belum menjadi murid dari mama ajengan.
Tepat jam enam pagi waktu
Tepat jam enam pagi waktu Indonesia bagian barat, camar musthof pun menyongsong hari ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang manusia biasa mencari nafkah demi kehidupannya dan untuk berbagi dengan keluarga dan saudaranya yang ia tinggalkan di kampung halaman. Ia memang bukan pekerja kantoran, jadi untuk pergi ke tempat ia mengadukan nasibnya ia menggunakan pakaian seadanya namun rapi dan bersih, sebab baju seragam yang selalu di gunakan untuk bekerja setiap hari, selalu menunggu menggantung di tempatnya (loker).
Hari itu pun si camar bekerja memenuhi qudrat Illahi, lelah, lemah suka gembira, bahkan omelan ia dapatkan di hari itu, begitulah hidup seorang pekerja yang konon bekerja ya untuk di marahin boss, yang ini istilah dari bosnya yang juga pernah di marahin oleh bosnya bos.
Hari bergulir begitu cepat, detik berkumpul menit, menit berkumpul jam, delapan jam sudah di potong istirahat Camar Musthof menghabiskan waktunya di tempat kerja, kini saatnya ia mulih, pulang ke tempat kostannya yang tak jauh dari tempat ia bekerja, sebelum pulang terlebih dahulu ia menunaikan kewajibannya kepada Sang Kholiq di sore hari, sholat ashar berjama’ah bersama karyawan lainnya, ia tak berani menjadi iman meski di minta sebab ada orang yang telah menikah yang lebih afdhol sanggahnya.
Akhirnya si Camar Musthof kembali ke kandangnya (kostan), ia terbang melewati gang – gang kecil, belok kiri belok kanan entah sudah berapa belokan, kepakan langkahnya menuntun ia untuk berpikir jauh sebenarnya untuk apa diri ini bekerja?, Untuk apa diri ini mencari uang?, untuk mencari kekayaan kah ? sepertinya bukan, sebab sabda nabi orang yang belum menikah belum memilik istri/suami tidak di sebut orang yang kaya, terus untuk apa diri ini bersusah payah mencari napkah?.
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (S. Al Baqarah : 215).
Dalam pertarungan bathinnya ia diingatkan “carilah nafkah untuk kewajiban hukum syari’at dan juga untuk ibadah”. Dengan bekerja engkau menjadi mulia, dengan bekerja engkau menjadi kuat dan yang penting dengan bekerja engkau juga beribadah sekaligus bermuamalah.
Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (S. At Taubah : 121)
Sebenarnya bukan persoalan pekerjaan yang ia tanyakan pada dirinya, namun ia ingin bertanya sampai kapankah dirinya harus hidup sendiri, bukankah sudah waktunya ia berpikir untuk menyempurnakan separo agamanya, selain untuk bekerja dan mencari nafkah, duh.. Ya Rabb, adakah jodoh untukku, sahut pikirnya, gadis mana yang mau dengan diri ini, ingatnya membawanya ke masa lalu, ketika ia masih duduk di SLTA, ia pernah jatuh hati kepada seorang gadis, Gadis Berkudung Pink yang mulai ia kenal sewaktu MTs dulu, yang sampai tamat SLTA, si Camar Musthof masih sempat menghubunginya meski Cuma lewat salam kepada temannya di kampung halaman sana dan telepon meski jarang sekali maklum tidak ada handphone, akhirnya ia tahu konon ternyata setelah selesai tamat SMU (gadis iu sekolah di SMU Karang Sembung) si Gadis Berkudung Pink itu melanjutkan ke perguruan tinggi di Jakarta, sesuai dengan keinginannya yang pernah di bicarakan ke pada si Camar Musthof ia mengambil jurusan Akuntansi, jurusan yang si Camar Musthof inginkan juga waktu itu, namun memang nasib si Camar, ia ke Jakarta dengan tujuan untuk bekerja dan kemudian kuliah sambil bekerja, namun tidak kesampain juga sampai detik ini.
Duh dimanakah ia? Sepertinya telah tenggelam dalam lautan perbedaan dan jarak yang terlampau jauh, terakhir si Camar tahu bahwa gadis itu bekerja sebagai Konsultan Akuntan, yang membuat si Camar makin minder, sebab seragam dan kulitnya sudah berbeda si gadis sudah menjadi orang yang jauh lebih pinter sekaligus pandai bagi si Camar, yang tentunya akan mencari pendamping yang setidaknya sesuai dengan seragam kebesarnnya sebagi seorang Akuntan, tidak seperti si Camar yang masih belajar terbang, berebut ikan di pelataran perkotaan.
Duh, Gadis Berkudung Pink di manakah bumimu berada ?, Masih ingatkah dengan si Camar temanmu yang lalu?, yang pernah mengutarakan isi hatinya ?, si Camar bertanya ke dalam isi hatinya sendiri, ia yakin gadis itu bukan jodohnya, namun ia tahu bahwa si Gadis Berkudung Pink juga belum menikah, sebab ia pernah berkata padanya kalau ia menikah ia akan memberi tahu si Camar. Dalam renungan, terbesit dalam ingatan si Camar, sudah 7 tahun dari pertemuan terakhirnya dengan si Gadis, bahwa si gadis akan menikah setelah 7 tahun, duh semoga saja ia mendapatkan jodoh yang layak baginya.
Kini saatnya si Camar harus merelakan si Gadis Berkudung Pink, mencari gadis lainnya syukur-syukur yang berkudung, yang penting gadis itu mau menerima dengan keadaan dirinya, entah di bumi cinta mana harus di cari, dengan cara apa ia harus mencari dan menyapa sang gadis. Semoga saja tiba sang waktu untuk si camar menyempurnakan separo agamanya untuk bersyukur memuji kebesaran Penguasa Alam maya pada.
Dengan syari’at si Camar yakin akan firman Allah yang di nuzulkan kepada hambaNYA.
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
(S. Yaasiin : 36)
Kedua panggilan adzan di malam itu ia penuhi dengan kegembiraan, ia berusaha bangkit dari mimpi ngeri kehidupan, menuju lorong Hidayah dan Rahmat Allah, ia tekadkan diri untuk memulai berbenah diri menyongsong masa, untuk berusaha menyempurnakan separo dari agama dengan do’a, usaha, ikhtiar dan tawakal di persembahkan ke Yang Maha Widi. Sambil berharap semoga sang waktu mempertemukan diri di Bumi Para Pencinta.



0 komentar:
Posting Komentar