إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Senin, 06 September 2010

Lailatul Qadr Bil I’tikaf


 

Mencari
Lailatul Qadr Bil I’tikaf

Kala itu, angin malam bergerak lembut membawa semiliwir tasbih menuju pelosok kelurahaan Menteng Atas dari RW yang satu ke RW yang lain, membawa kabar yang menggetarkan hati, mengajak sanubari untuk memuliakan malam itu, malam sepuluh hari terakhir bulan suci, tepatnya malam ke 23. Bak laron “Siraru bahas sundanya” yang terbang dari gelapnya sarang menuju cahaya yang disenanginya, berbondong –bondong shoimiin wa shoimaat menuju mesjid memohon ke ridhoan Allah Yang Maha Kuasa untuk mencari Lailatul Qadr “Malam Seribu Bulan” yang telah di terangkan dalam FirmanNYA.


Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS Al Qadr : 1-3)

Satu persatu para jama’ah masuk menuju ke ruang utama mesjid sambil memanjat do’a masuk masjid. Sama seperti jama’ah lain datang seorang musyafir lalu, ia pun memasuki mesjid dengan memanjat do’a sama seperti halnya orang lain yang ingin memasuki mesjid tak lupa ia berniat untuk melaksanakan I’tikaf “Nawaitu An A’takifa Fi Hadal Masjidi Maa Dumtu Fiihii”, kemudian ia pun sholat sunnah dua rakaat, sebagai penghormatan.

Ramadham memang luar biasa, apa lagi di sepuluh hari terakhir yang di sebutkan Akhiruhu Itfum Minan Nar dan terdapat keterangan yang menyebutkan pada malam ganjil di sepuluh hari itu terdapat Malam Lailatul Qadar, malam yang selalu di harapkan oleh semua mu’min yang berpuasa entah itu yang mau mencarinya maupun yang cuma mengharapkan tanpa usaha sedikit pun.

Tidak heran jika di mesjid-mesjid pada sepuluh akhir puasa di penuhi oleh orang – orang mu’min yang  beri’tikaf (berdiam diri di mesjid untuk mendekatkan diri dengan Allah), sebab mengamal sabda Rasullah SAW yang memerintahkan kaum mu’minin untuk mencari keagungan Lailatul Qadr yang kebaikan nilainya seribu bulan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan terutama di malam – malam ganjil 21, 23, 25, dan seterusnya, termasuk bagi si musyafir lalu yang tidak mau ketinggalan untuk beri’tikaf mencari Malam Kemuliaan.


Ada yang mengisi I’tikafnya dengan membaca Al qur’an,  ada yang memperbanyak sholat sunnah (sholat sunnah tasbih, sholat taubat dan lain-lain) dan ada pula yang mengisinya dengan memperbanyak istigfar, sesuai dengan sunnah Nabi ketika di tanya oleh istri tercinta, “Yaa Rasulallah, ucapan apakah yang harus saya lalukan jika saya bertemu dengan Lailatul Qadr ?” Rasul menjawab ucapkanlah olehmu istigfar.

أشهدأن‌لاإله‌إلاّّالله‌أستغفرالله‌أسألك‌رضاك‌والجنّة‌وأعوذبك‌من‌سخطك‌و‌النار

Duh wahai Allah Yang Maha Pengampun, Ampunilah segala dosa yang ada pada diri hamba, Yaa Kariim (Yang Maha Mulia)

Tak di nyana oleh si musyafir, ternyata di pagi itu sekitar kurang lebih pukul 00.30 waktu Indonesia setempat, di mesjid dimana ia beri’tikaf ternyata mengadakan semacam pengajian yang di sampaikan oleh da’I kondang asal sekiatar Jakarta yang isinya mengajak untuk  mencari Malam Kemuliaan di sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan melakukan I’tikaf (mencari Lailatul Qadr bil I’tikaf)

Kata sang da’I “Al Qadr”, itu bisa berarti mulia seperti keterangan bahwa Sesungguhnya Allah telah menuzulkan AlQur’an pada malam kemuliaan (Al Qadr), karena ibadah pada malam itu nilainya lebih baik dari seribu bulan,  Ahbirniy,, Ya Allah dalam suara lirihnya si musyafir bergumam.

Dari padanan kata Al qadr juga bisa berarti ketentuan seperti pada Al Qur’an Surat At Tholaak ayat 3


Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Allah telah menyampaikan ketentuanNYA (malam lailatul qadr) pada bulan Ramdhan, dan dari kata Alqadr juga bisa ditemukan yang artinya sempit.


Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya(At Thalaq : 7)

Jadi bisa di artikan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang sempit, mengapa demikian karena pada malam itu Malaikat – malaikat Allah dan Malaikat Jibril dengan izin Allah turun ke bumi untuk mengatur segala urusan, dan seolah – olah pada malam itu bumi menjadi sempit karena dengan turunnya malaikat – malaikat, mesjid akan terasa luas ketika jama’ah itu kosong dan akan terasa sempit ketika Sholat ied atau sholat jum’at sebab mesjid tidak dapat menampung ke seluruhan jama’ah pada kedua waktu itu.

Demikian kira – kira pengertiannya Wa Allahu ‘Alam, marilah kita mencari malam lailatul Qadr dengan cara mendekatkan diri lewat I’tikaf yang isinya bisa dengan memperbanyak sholat sunnah, membaca Al Qur’an atau dengan memperbanyak mengucap istigfar. Akhirnya do’a akhir majlis pun di sampaikan sang da’I

“Subhanaka Allumma Wa BihamdiKA Ashadu Ala ilaha Illa ANTA AstagfiruKA Wa Atubu ilaiKA”


Hadaniyallahu Wa Iyyakum Ajmaiin Tsumas Salamu Alaikum Wr. Wr.
Wallahu ‘Alam



(di tulis setelah menghadiri majelis ilmu yang disebutkan bahwa, duduknya barang sesaat di majelis ilmu itu nilainya lebih baik dari pada sholat sunnah seribu rakaat)



0 komentar:

Posting Komentar

"DAN SALING TOLONG MENOLONGLAH DALAM KEBENARAN DAN KESABARAN"