Hari
itu, 8 Februari 2013 ....
Di
Jum’at sore itu tepat jam 13.30, aku berpamitan pada bibiku hendak pulang ke
kampung halaman, tempat ayah dan bunda dan handai tolanku, ku jinjing tas hitamku
dengan tangan kiri, bismillahi tawakkaltu ‘alallah...,
Bismillahi majroha wamursaha, ku susuri pelataran ibu kota kulihat
gedung tinggi yang tak lain sebuah Apartemen di dekat Stadion Lebak Bulus, yang
kadang menjadi ironi sebab di belakangnya berdiri bangunan kontrakan yang apa
adanya, bahkan sedikit kumuh. Akhirnya sampai juga di terminal setelah aku
kasih uang 500 rupiah pada penjaga terminal tersebut, aha ternyata bus yang
menuju kampungku sudah siap berangkat.
Aku yang sudah dari kemarin berniat pulang kampung, akhirnya ikut naik juga di bus yang mempunyai rute Luragung – Jakarta atau sebaliknya Jakarta – Luragung yang tentunya melalui Sindang, umumnya para penumpang kebanyakan kalau tidak para pedagang yang beradu nasib di ibu kota, pasti mereka pekerja swasta seperti saya, dan tidak menutup kemungkinan ada pengusaha juga yang mengunakan jasa transportasi jenis ini, di dalam bus aku meliahat sekeliling siapa tahu ada dikenal, ah ternyata tidak ada seorangpun yang aku kenal dalam kerumunan penumpang itu, namun aku bisa mendengar dari pembicaraan para penumpang mereka umumnya orang sunda tulen, meski kadang ada yang berbicara ala orang jakarta, sore itu penumpang di bus tidak sampai berdesak –desakan seperti bus trans jakarta meski berpenumpang penuh, sampai – sampai kondektur mengeluarkan beberapa bangku duduk tambahan yang di tempatkan di tengah-tengah, aku bersyukur masih dapat tempat duduk di bagian tengah bus.
Kulihat handphoneku menunjukan waktu 14.00, supir bus Luragung naik dan langsung menyalakan bus di sambut riang para penumpang sebab bus akan segera berangkat, dan benar saja tidak dalam hitungan menit bus melaju meninggalkan terminal Lebak Bulus, diperjalanan sesekali bus tersebut berhenti untuk menerima penumpang baru, maka seketika itu juga kondektur mengeluarkan kembali bangku plastik. Duh, Subhanallah baru saja seorang gadis berkerudung coklat/sawo matang bermasker berjalan melewati tempat dudukku sambil membawa tas kecil dan membawa bingkisan oleh – oleh khas bandung, sepertinya memang ia mahasiswi dari Bandung yang mau mudik, di susul beberapa penumpang lainnya yang di sambut juga oleh bangku plastik yang di sodorkan kondektur.
