BELAJAR DARI IBRAHIM a.s.
Sang Kholilullah
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (S. Ibrahim : 38)
Entah sudah berapa abad kisah sang Bapak Para Nabi itu telah di ceritakan, di riwayatkan dari mulut kemulut, dari lembaran – lembaran sejarah, dari esai – esai yang tersurat hingga yang tersirat di lubuk para hamba yang selalu belajar, ya belajar mencintai Allah dari Abul Anbiya (Nabi Ibrahim a.s).
Hari itu, senja mengemban titah dari Illahi, menutup hiruk pikuk pagi hingga siang hari, langit menampakan keindahan lembayungnya beriring sang surya tenggelam di penghujung senja, memasuki malam yang di sambut tasbih binatang – binatang dan angin malam yang masuk ke rumah Sang Abul Anbiya yang sedang bertafakur mengingat titah Illahi dalam mimpinya malam kemarin, Ia di perintah untuk menyembelih anak tercinta yang di sayanginya sebagai ujian atas kecintaannya kepada Pemilik bumi dan langit. Seolah di pertanyakan tentang keteguhan cintanya “Besarmana cintamu kepada Allah ataukah cinta kepada anakmu yang telah lama engkau nanti-nantikan sekian tahun?”.
Setelah selesai menjalankan rutinitas ibadah sehari – hari akhirnya ia pun pergi menuju peraduannya, tidur melakasanakan haknya sebagai manusia (para nabi layaknya manusia biasa yang butuh makan dan tidur), dan dalam tidur lelapnya Sang Nabi bermimipi kembali seperti malam sebelumnya, beliah mimpi menyembelih leher anak satu-satunya dari Siti Hajar, beliau adalah Nabi Ismail a.s., setelah berfikir beberapa saat, ia memutuskan bahwa ini adalah benar perintah Allah SWT yang harus di laksanakan dan beliau menentukan bahwa esok hari akan memberitahukan mengenai mimpinya kepada anak tersayang dan tentunya beliau akan meminta pendapat anaknya.
Sebagai seorang imam yang adil, ke esokan harinya ia meminta izin pada sang istri tercinta untuk pergi bersama anaknya yang tak lain ialah Nabi Ismail a.s. kesuatu tempat untuk memberitahukan tentang mimpi yang telah membuatnya harus berfikir, jelasnya untuk membuktikan cintanya kepada Sang Pemilik Jagat lebih besar dari pada cintanya kepada anaknya sendiri yang telah di nantikan kebesarannya, dengan kecintaanya Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada anaknya yang telah di ukir dalam Kitab Suci Al Qur’an.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (S. Ash Shaaffaat : 102)
Dan anak yang sholeh itu memberikan jawaban yang diabadikan rapi dalam Mushaf Al Qur’an
Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (S. Ash Shaaffaat : 102)
Mereka berdua adalah Nabi – nabi yang sabar dan sholeh yang selalu patuh dan cinta hanya kepada Allah semata, dan tentunya untuk membuktikan kecintaannya akan menghadapi berbagai cobaan dan godaan, sebagaimana di ceritkan ketika Sang Ibrahim a.s. mau melaksanakan titah Illahi mengenai mimpinya untuk menyembelih anaknya, beliau di goda oleh syetan yang membujuknya untuk tidak membenarkan mimpi yang di alaminya, dengan tegasnya beliau Sang Kholilullah menghardik syetan dan melemparnya dengan batu sebanyak tujuh kali lemparan, sebanyak syetan mencoba membujuk beliau untuk tidak melaksanakan titah Illahi, hal ini yang di kemudian hari di kenal dengan sebutan Jumrah Aqobah, dan akhirnya pelaksanaan titah itu pun mendapat balasan dari Pencipta Jagat Raya berupa penyelamatan sang Ismail a.s. dengan menggantikannya dengan domba sembelihan yang besar, dan hal inilah yang kemudian menjadi awal di syariatkannya ibadah Qurban pada bulan Haji.
Begitulah orang – orang yang sabar yang selalu mementingkan perintah Allah, akan selalu mendapatkan kesejahteraan yang berlimpah, mereka tak lupa untuk bertukar pikiran (musyawarah) dalam setiap masalah yang di hadapi, seperti yang di contohkan Nabi Ibrahim a.s. dengan Nabi Ismail a.s. dalam menentukan masalah.
Sungguh ironi para pemimpin zaman sekarang, tidak sedikit dari mereka bertindak seenaknya sendiri demi kepentingan sendiri dan golongannya, banyak dari mereka rela mengorbankan orang lain, bahkan keluarga dan temannya sendiri, tidak mau berkaca dari kisah dan riwayat para pendahulunya, padahal mereka adalah intelektual yang sudah menggondol beberapa gelar formal dan mengenyam pendidikan doctoral, akh mungkin mereka tidak punya bekal Iman yang menjadikannya pinter tapi kebelinger, meski demikian tidak sedikit para pejabat kita yang menjalankan amanah sesuai dengan titah dan anugrah yang di embannya.
Oh, Jiwa Orang Indonesia, jangan lupa titipkan do’a semoga negeri ini menjadi negeri yang Aman, tentram dan sejahtera, mulai dengan menata diri sendiri, untuk menjalankan titah Illahi yang telah di anugrahkan dan di amanahkan, semoga kita bisa belajar dari Ibrahim a.s. belajar,
“Patuh dan Cinta Kepada Allah Semata”
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (do’a Nabi Ibarhim yang tersurat dalam Al Qur’an).
Semoga menjadi pengingat diri di kala ingat atau khilaf, di kala sepi atau di kala ramai, di kala sibuk atau di kala lengah.


0 komentar:
Posting Komentar