HEWAN JUGA BISA MENGAJAR
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.(S. Al Kahfi : 7)”
Selasa tepatnya tanggal 9 Maret 2010, tak sengaja saya melihat sebuah keeping kaset DVD milik teman kostan, yang judulnya HACHIKO a dog’s story (konon katanya sebua kisah nyata zaman dulu., Dengan keingin tahuan saya pun memutarnya, dan saat ini saya ingin menggambarkan sebagian isinya, meski memang penggambaran latar dan tempat tidak akan seperti yang tertuang dalam film tersebut namun setidaknya bisa di pahami.
Di pagi hari itu di sebuah sekolah kanak – kanak (katakana saja di Amerika) seorang guru meminta anak didiknya untuk menceritakan perihal pahlawan (HERO), dalam kehidupannya. Satu persatu anak – anak pun maju untuk mengungkapkan tentang pahlawan menurut daya pikir mereka saat itu (sekitar umur 7-8 tahunan), dan kesempatan pun di berikan kepada seorang anak laki – laki sebut saja “Alex”. Dalam pandangannya saat itu pahlawan menurutnya adalah Hachiko seekor anjing milik kakeknya. Pada permulaan presentasi ia ditertawakan sebab mana ada seekor anjing jadi pahlawan.
Dan mungkin kita pun berpikiran demikian mana ada seekor anjing jadi pahlawan, selain ia tak bisa berbicara ia pun tentunya tidak bisa berbuat layaknya manusia. Di hari yang cerah ini saya memohon maklum, sebab pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda memperhatikan seekor hewan yang sudah pasti kita tahu sebagai seorang muslim entah itu dari hukum keharaman dan kenajisannya. Ya seekor anjing adalah hewan yang najis dan bahkan haram untuk di konsumsi, namun kali ini saya ingin mengajak untuk melihat esensi dari sebuah ciptaan Allah bukan hanya dari lahir yang kadang menipu mata.
Awal ceritanya, di awal malam yang gelap seorang professor universitas (sebut saja Parker Wilson) baru saja pulang dari tempatnya ia mengajar, seperti biasa ia berangkat dan pulang dengan mengendarai sebuah kereta, malam itu ia pun turun dari kereta dengan membawa tas dorong, ketika sedang berjalan pulang kerumah tak sengaja ia menemukan seekor anak anjing yang lepas dari kandangnya (konon katanya anjing terebut mau di kirimkan ke jepang entah kenapa bisa tertinggal di Ameriaka) dan tidak ada seorang pun yang mengindahkan keberadaan anak anjing tersebut selain ia, entah karena merasa kasihan atau apa akhirnya ia pun membawanya ke rumah. Tidak ingin diketahui istrinya, ia pun menyimpan anak anjing tersebut di kamar yang kosong, namun ternyata anak anjing tersebut merasa lapar dan akhirnya keluar dari kamar itu untuk mencari makan di rumah tersebut, sampailah anak anjing itu ke kamar si professor yang sedang berdua dengan istrinya, dan istri professor kaget luar biasa dan meminta untuk mengeluarkan anak anjing terebut, namun sang professor meminta maaf dan meminta waktu samapi menemukan orang yang kehilanganya. Padahal pada waktu itu sang professor tersebut sudah menyukai kelucuan anak anjing tersebut bahkan putri satu – satunya juga menyukainya.
Namun yang masih belum mau menerima adalah istri tercintanya, yang kemudian hari meminta untuk membuat iklan mengenai telah di ketemukannya seekor anak anjing. Dengan terpakasa professor yang sudah menyukai anak anjing itu pun mencoba menawarkan kepada orang – orang yang di kenalnya untuk mengadopsi anak anjing tersebut, bahkan ia berkonsultasi kepada teman dekatnya yang kemudian di ketahui bahwa anjing tersebut memiliki naman Hachi (dalam bahasa jepang artinya delapan), namun demikian tiada seorang pun yang mau mengadopsinya dan demikian pula dari iklan yang mereka buat tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan seekor anak anjing.
Hari – berganti hari, minggu berganti bulan, akhirnya istri professor tersebut juga mau menerima keberadaan anak anjing tersebut yang ternyata sudah semakin besar, meski dengan syarat anjing itu tidak tinggal di rumah melainkan tinggal di sebuah gubuk bagus di halaman rumahnya, professor menyetujuinya dan ia pun menempatkan anjing kesayangan di gubuk itu dengan kasih dan sayang yang sangat layaknya ia menyayangi keluarga sendiri.
Tahun berganti tahun, konon katanya Hachi panggilan akrab anjing tersebut memiliki hubungan emosional dengan sang professor yang terbukti dengan patuhnya sang anjing kepada majikannya (professor), bahkan setiap pagi hari hachi selalu mengantarkan tuannya ke stasiun kereta untuk berangkat bekerja, dan setiap sore harinya hachi kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya (sang professor pun senang dengan perlakuan hachi). Kejadian tersebut berulang setiap hari sehingga membuat orang – orang yang di stasiun tersebut terheran dan mengenal nama anjing tersebut bahkan sesekali memeberi makanan kepada anjing tersebut.
Akhirnya pada suatu saat di pagi hari entah sebuah insting atau isyarat hachi bertindak tidak seperti biasanya, ia tidak mau di ajak sang professor untuk mengantarnya ke stasiun, professor pun akhirnya berangkat sendiri sambil berharap hachi mengikuti di belakangannya, namun untuk beberapa saat professor tidak melihat hachi sampai orang – orang menanyai tentangnya, namun sebelum professor masuk pintu stasiun ternyata hachi pun terlihat di belakang mengikuti dari jauh dengan membawa sebuah bola di mulutnya ternyata hachi ingin mengajak professor bermain bola (professor yang melempar dan hachi membawanya kembali) seharian, namun waktu itu professor tidak mengindahkan keinginan hachi sebab ia akan berangkat bekerja seperti hari biasa dan ia pun berangkat dengan membawa bola pemberian hachi anjing kesayangannya.
Al kisah, di tempat professor bekerja ia menerangkan tentang berartinya sebuah kehidupan, sebuah hubungan kasih sayang, dan ternyata hari itu adalah hari terakhir untuk hidupnya di dunia karena di tengah pembicaraan dengan murid – muridnya ia terjatuh pingsan dan ternyata sampai meninggal dunia, ternyata :
“jika kematian datang pada seseorang maka tiada seorang pun yang mampu mendahulinya atau pun mengakhirinya”
“Waktu adalah kehidupan, dan orang yang hidup seyogyanya selalu memanfaatkan waktu untuk berbuat kebijakan, sebab waktu bisa dicabut dan di minta oleh yang memiliki (Allah SWT) kapan pun waktunya tanpa tiada seorang pun mampu menolaknya ”(hanya ungkapan penulis, bukan di ambil dari kata – kata mutiara)”
Sebagai seeokor anjing, hachi tidak mengetahui bahwa tuanya (professor) sudah tiada untuk selamanya, sore itupun ia menunggu kepulangan professor ditempat biasanya ia menunggu, sampai larut malam bahkan sampai berhari – hari, akhirnya menantu professor menjemputnya dan ia pun mau diajaknya (hachi sudah mengenal sang menantu sebab pernah main bola bersama). Namun ke esokan harinya hachi masih melakukan kebiasaanya mengantar – menjemput walau yang di antar – di jemput sudah tiada rimbanya (maklum ia hanya seekor anjing yang tidak punya ilmu namun punya insting dari Illahi). Karena tak tega dengan ulah hachi, putri satu satunya professot mengajaknya untuk tinggal di rumahnya yang jauh dari stasiun kereta tersebut sambil berharap hachi melupakan tuan besarnya (sang professor), namun ternyata hachi tak mau dan ia pun kembali ke stasiun dan menunggu professor di tepat biasa. Setiap pagi hari hachi datang ke stasiun dan sore harinya pun ia datang dan menunggu di tempat biasa seolah tuan besarnya yang ditunggu masih hidup. Dan ini berlangsung terus menerus, sampai – sampai orang – orang di setasiun terheran dan merasa terharu dengan ulahnya si hachi yang selalu setia menunngu tuannya, kejadian ini berlangsung sampai sembilan tahun lamanya, coba bayangkan ada seekor anjing yang dengan setia menunggu tuannya tanpa ia tahu bahwa tuannya sudah tiada hidup di dunia, apakah ia sudah gila?, apakah sudah tidak ada orang yang menyayanginya?, hal ini pun yang membuat istri professot terharu sebab selama sembilan tahun ia tidak tahu bahwa anjing kesayangaan suaminya rela menunggu bermusim – musim lamanya tanpa tahu kapan tuannya kembali .. Subhannallah, ternyata kebiasaan tidak mudah untuk di rubah, demikian juga kebiasaan hachi sewaktu tuannya masih hidup di bawa sampai waktu ketika tuannya tiada bahkan sampai hachi sendiri menemui ajalnya. Namun dalam hal ini bukan kebiasaannya yang ingin saya tonjolkan, melainkan kesetiaan akan cinta kasih,pengorbanaan, loyalitas, istiqomah atas suatu kebenaran, dan indahnya kebersamaan.
Pada akhirnya anak yang menceritakan hachiko sebagai pahlawan mendapat tepukan tangan dan semua yang ada di kelasnya waktu itu semuanya merasa terharu dan banyak yang meneteskan air mata.
Bergitulah tidak semua pahlawan harus selalu manusia yang gagah berani, ia juga bisa seekor hewa yang mampu memberikan pelajaran hidup, meski pada hakikatnya hanya Allah yang mampu mengajarkan semua mahlkuk dengan pelantaraan kalamNYa.
Setelah melihat film hachico tersebut saya teringat, padahal umat islam memiliki kisah – kisah yang lebih menggugah mengenai kehebatan hewan sebagai cipataan Allah yang mampu mengajarkan pentingnya kehidupan. Sebut saja burung hud – hudnya Nabi Sulaiman as, anjingnya ashabul kahfi dan lain – lain.
Kalau dalam cerita hachiko, anjing hanya setia kepada seorang professor yang menyayanginya dengan cara menungguinya, namun pada kisah ashabul kahfi anjing yang senantiasa setia kepada pemuda ashabul kahfi tersebut rela dikejar, di buru demi menyelamatkan iman dan islamnya dari kejaliman rajaDikyanus /Decius, mereka para pemuda pemegang tali Allah dan anjingnya akhinya menyelamatkan diri di sebuah gua (ashabul kahfi artinya pemuda – pemuda penghuni gua).
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (S. Al Kahfi : 10)
Pada kisahnya pemuda ashabul kahfi beristirahat dan tertidur didalam gua tersebut selama tiga ratus Sembilan hari, ketika mereka terbangun mereka melihat ada tulang belulang di mulut gua yang ternyata adalah anjingnya yang setia menjaga keselamatan mereka.
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.
(S. Al kahfi : 18)
Tuh … kan umat islam memiliki kisah seeokr hewan yang lebih baik dari semua kisah hewan yang ada di kemudian hari, selain karena pada kisah ashabul kahfi anjing tersebut member pelajaran kepada kita untuk menjaga keistiqomahan dalam islam, dan tetap setia kepada pemimpin yang memang memegang tali Allah, beriman dan bertaqwa kepada Allah.
Akhirnya tulisan ini saya selesaikan dengan berjuta asa mudah – mudahan saya bisa istiqomah dalam islam, selalu belajar mengenai kalam Allah yang begitu sempurna, dan belajar dari kisah – kisah islam masa lalu yang selalu bertumpu pada Alqur’an dan Hadits.
Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.
Wallahu A’lam

0 komentar:
Posting Komentar